Sekolah “Amburadul” Karena Kinerja Kepala Sekolah Buruk

Jakarta, KBI Gemari
PERNAHKAH Anda menyaksikan suatu sekolah yang “amburadul”? Indikatornya adalah kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak lancar. Biasanya hal itu diikuti pula oleh pembayaran honorarium yang tidak lancar pula kepada para gurunya. Akibat KBM yang tidak lancar maka tingkat bolos para siswanya tinggi. Kedisiplinan siswa kurang baik dalam berpakaian seragam, masuk dan meninggalkan sekolah, dan seterusnya. Tingkat kriminalitas (dalam arti melanggar aturan dan tata tertib sekolah) tinggi dari para siswanya. Pendek kata, biasanya masyarakat di sekitar sekolah berada lebih mengetahui betapa bobroknya sekolah tersebut. Mengapa suatu sekolah bisa amburadul seperti itu?
Tentu saja, Anda boleh percaya atau tidak bahwa mutu alias kualitas suatu sekolah ditentukan oleh keberadaan kepala sekolahnya. Sekolah yang baik adalah sekolah yang memiliki sumber daya manusia (SDM) yang baik sebagai pengelola sistem sekolah. Tetapi SDM yang baik saja masih belum mencukupi. Soalnya, seperti implisit dikatakan di muka, sekolah merupakan sebuah sistem sosial. Di dalamnya ada siswa (murid), petugas tata usaha, pesuruh, pekerja sosial, laboran, guru, kepala sekolah, penjaja makanan di kantin, dst. Dari semua komponen itu, komandan tertinggi yang memegang komando adalah kepala sekolah. Bagaimanakah bila mutu kinerja kepala sekolahnya buruk?
Inilah persoalannya. Untuk menentukan apakah suatu sekolah bermutu baik atau tidak tentu saja diperlukan sebuah penelitian yang saksama. Tetapi, tanpa harus berpikir terlalu njlimet, kita bisa melihat salah satu atau lebih indikatornya. Semua aturan sekolah akan berjalan dengan baik bila dilaksanakan secara baik oleh para komponen dari sistem sekolah. Bila salah satu komponen bekerja dengan tidak baik, maka sekolah akan mengalami penurunan mutu. Implikasinya, siswa akan banyak yang bolos, sering kesiangan, tawuran, narkoba, dan yang paling sering diamati masyarakat di akhir tahun: NEM menurun.
Bila NEM menurun, masyarakat akan secara mudah saja mengambil keputusan bahwa suatu sekolah buruk kualitasnya. Meskipun keputusan itu tidak adil dan tidak proporsional, tetapi penilaian masyarakat memang seperti itu. Susah untuk ditawar-tawar. Mereka menilai tanpa indikator yang jelas dan berimbang. Tetapi pengaruh dari kekuatan penilaiannya luar biasa. Maka, sekolah yang baik haruslah sekolah yang mampu menampilkan segala sesuatu yang terbaik, termasuk NEM yang tinggi-tinggi. Soalnya, berdasarkan atas kriteria apapun masyarakat akan menilai mutu sekolah, sekolah akan selalu siap untuk dinilai dengan hasil selalu baik.

Tergantung Kepala Sekolah
Bila sekolah yang baik diartikan sebagai sekolah yang semua kegiatannya berjalan lancar dan menghasilkan out put atau keluaran yang bagus pula, maka kinerja para pengelolanya mestilah telah maksimal. Kinerja para pengelola – dalam hal ini tenaga kependidikan – yang buruk mencerminkan bahwa mereka telah mengalami degradasi. Agar tidak sampai seperti itu, maka perlu adanya sistem kerja yang baik. Sistem kerja yang baik memerlukan pengawasan yang baik pula. Dan pengawasan ini, salah satu di antaranya, terletak di tangan kepala sekolah.
Dengan demikian, kunci keberhasilan suatu sistem sekolah baik langsung ataupun tidak langsung ditentukan oleh kinerja kepala sekolah-nya. Bila kinerja kepala sekolahnya baik, bukan mustahil, maka sekolah tersebut akan menghasilkan keluaran yang baik pula.
Adakah penelitian yang mendukung ke arah itu? Tentu saja ada. Sebuah penelitian yang dijadikan Tesis oleh Marsono, M.Pd. (2001) dari Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta, berjudul Hubungan antara Pengetahuan Kepemimpinan dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri di Kabupaten Indramayu telah menghasilkan temuan yang mendukung pembicaraan kita di awal tulisan ini.
Penelitian yang dilakukan oleh Marsono, M.Pd. bertujuan untuk pertama, mengetahui hubungan antara pengetahuan kepemimpinan dengan kinerja kepala sekolah. Kedua, untuk mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dengan kinerja kepala sekolah. Ketiga, untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan kepemimpinan dan motivasi berprestasi dengan kinerja kepala sekolah. Data diperoleh dengan kuesioner terhadap 51 orang kepala Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri yang berada di Kabupaten Indramayu.
Dalam penelitian ini ia mengajukan tiga hipotesis, yaitu (1) terdapat hubungan positif antara pengetahuan kepemimpinan dengan kinerja kepala sekolah, (2) terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi dengan kinerja kepala sekolah, dan (3) terdapat hubungan positif antara pengetahuan kepemimpinan dan motivasi berprestasi dengan kinerja kepala sekolah.
Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan metode survey. Populasi terdiri dari 51 orang kepala Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri sekabupaten Indramayu. Instrumen penelitian didasarkan validitas isi. Dalam ujicoba instrumen variabel pengetahuan kepemimpinan (X1) dari 40 butir pertanyaan yang valid sebanyak 34. Instrumen variabel motivasi berprestasi (X2) dari 40 butir pernyataan yang valid sebanyak 35 pernyataan, lalu instrumen variabel kinerja kepala sekolah (Y) dari 40 butir pernyataan yang valid sebanyak 34 pernyataan. Sedangkan keterandalan (reliabilitas) dihitung dengan rumus Alpha Cronbach untuk menghitung skala sikap variabel pengetahuan kepala sekolah (X1), motivasi berprestasi (X2), dan kinerja kepala sekolah (Y). Hasil ujicoba instrumen menunjukkan bahwa keterandalan atau reliabilitas masing-masing instrumen adalah sebagai berikut: pengetahuan kepemimpinan (X1) mempunyai r1 = 0,982, motivasi berprestasi (X2) mempunyai r2 = 0,975, dan kinerja kepala sekolah (Y) mempunyai ry = 0,978. Uji normalitas menggunakan uji Chi Kuadrat. Harga Chi Kuadrat untuk instrumen X1 = 1,88, untuk instrumen X2 = 7,46, dan untuk instrumen Y sebesar 4,53, sedangkan Chi Kuadrat tabel sebesar 9,49.
Penelitian tersebut menghasilkan tiga temuan simpulan sebagai berikut: pertama, bahwa pengetahuan kepemimpinan mempunyai hubungan positif dan signifikan dengan kinerja kepala sekolah dengan koefisien korelasi sebesar ry-1 = 0,9215 pada taraf signifikansi 5%. Hal ini berarti bahwa 84,92 % varians kinerja kepala sekolah terjelaskan oleh pengetahuan kepemimpinan; kedua, motivasi berprestasi memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kinerja kepala sekolah dengan koefisien korelasi sebesar ry-2 = 0,9516 pada taraf signifikansi a = 5%. Hal ini berarti 90,55 % varians kinerja kepala sekolah terjelaskan oleh motivasi berprestasi; dan ketiga, terdapat hubungan positif dan signifikan antara pengetahuan kepemimpinan dan motivasi berprestasi dengan kinerja kepala sekolah secara bersama-sama dengan koefisien korelasi sebesar ry-12 = 0,9598 pada taraf signifikansi 5%. Hal ini berarti 92,12 % varians kinerja kepala sekolah terjelaskan oleh pengetahuan kepemimpinan dan motivasi berprestasi.
Berdasarkan temuan penelitian disarankan agar kinerja kepala sekolah meningkat, diperlukan pengetahuan kepemimpinan dan motivasi berprestasi dari setiap kepala sekolah. Maka, siswa, guru, petugas TU, atau siapa saja, dan terutama masyarakat (orang tua siswa) bisa menilai atau memantau apakah kinerja kepala sekolah baik atau tidak. Bila ada indikasi tidak baik, segeralah bertindak. Soalnya, bila indikasi itu dibiarkan terus, maka suatu saat mutu sekolah akan ambruk. Mutu sekolah yang ambruk dalam skala besar bisa berimplikasi pada ambruknya mutu pendidikan nasional.
Wah, bisa bahaya, tuh. Maka, implikasinya pula, sistem rekrutmen kepala sekolah perlu dilakukan penyempurnaan dari waktu ke waktu. Kita menunggu apakah Dewan Sekolah sebagai pengganti BP3 akan menghasilkan pemilihan kepala sekolah yang berkualitas atau … hanya ganti nama, sedangkan kualitas stagnan?
Bukan itu yang kita harpakan tentunya. Ketika isu Dewan Sekolah dihembuskan untuk menggantikan keberadaan BP3, dimana di dalamnya terdengar isu bahwa Dewan Sekolah akan berperan dalam pemilihan para kepala sekolah bahkan sangat menentukan, tidak mustahil ada kepala sekolah yang mulai deg-deg-an. Soalnya, ini isunya, kepala sekolah jabatannya akan dibatasi. Seperti di perguruan tinggi, seorang Rektor yang habis masa jabatannya akan kembali mengajar seperti dosen biasa. Seorang Ketua Jurusan atau Dekan yang habis masa jabatannya akan kembali mengajar seperti dosen biasa. Itu biasa bila di perguruan tinggi. Tetapi di tingkat pendidikan dasar dan menengah hal itu tidak biasa.
Lho kok? Lha iya. Seorang kepala sekolah baik SD, SLTP, SMU maupun SMK tidak sedikit yang menganggap bahwa jabatan itu merupakan jabatan sampai mereka pensiun. Syukur bila jabatan bisa meningkat menjadi pengawas, dan seterusnya. Di jenjang SD, SLTP, SMU/SMK bila seorang kepala sekolah turun kembali menjadi guru akan dianggap sebuah tragedi. Padahal, jabatan kepala sekolah seperti juga jabatan ketua jurusan, dekan, atau rector, hanyalah jabatan yang sewaktu-waktu habis masa jabatannya. Pada dasarnya, kepala sekolah sebenarnya guru juga yang mendapat tugas khusus sebagai kepala sekolah. Tetapi di jenjang pendidikan dasar dan menengah pelaksanaannya menjadi luar biasa. Tidak sedikit kepala sekolah yang tampil analog dengan “raja sekolah”. Tidak sedikit kepala sekolah yang tak mau mengajar lagi di kelas. Biasanya, tanpa pandang jurusan apa basis pendidikan mereka berasal, mereka hanya akan menjadi guru BP. Dengan begitu mereka tak perlu repot-repot berdiri di depan kelas secara rutin lagi. Selebihnya? Terserah Anda mau menilai apa. ()
Supriyanto FZ, S.Pd. adalah guru SLTP Negeri 2 Sindang Indramayu, Ketua Himpunan Guru Penulis Indonesia (HGPI) Cabang Indramayu.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: